Sabtu, 28 Oktober 2017

ASUHAN KEPERAWATAN OTITIS MEDIA


Asuhan Keperawatan Pada OMA (OTITIS MEDIA AKUT) 

Seorang klien dirawat diruangan perawatan rumah sakit swasta dengan keluhan kehilangan pendengaran pada telinga sebelah kiri disertai dengan keluarnya serumen yang berbau sejak 1 minggu yang lalu. Seorang perawat melakukan anamnesa, didapatkan hasil sebagai berikut: klien mengatakan suka mengorek-ngorek kuping dengan kuttenbad sampai dengan berdarah. Akhir-akhir ini klien sering mengalami batuk pilek, dan demam. Hasil TTV menunjukkan: TD: 110/80 mmHg, HR: 100 x/menit, RR: 20x/menit, Suhu 39º C. hasil pemeriksaan otoskopis diperoleh membrane timpani tampak merah, sering menggelembung dan mengalami perforasi. Klien diberikan terapi antibiotic spectrum luas, dan obat tetes telinga. Klien bertanya bagaimana bisa terkena penyakit ini. Diagnose medis klien otitis media, perawat dan dokter serta paramedis lainnya yang terkait, melakukan perawatan secara integrasi untuk menghindari atau mengurangi resiko komplikasi lebih lanjut.

A. DATA FOKUS
Data Subjektif
Data Objektif
1.  klien mengatakan kehilangan pendengaran pada telinga sebelah kiri
2.  klien mengatakan keluarnya serumen yang berbau sejak 1 minggu yang lalu
3.  klien mengatakan suka mengorek-ngorek kuping dengan kuttenbad sampai dengan berdarah.
4.  Klien mengatakan akhir-akhir ini sering mengalami batuk pilek, dan demam.
5.  Klien bertanya bagaimana bisa terkena penyakit ini

Data Tambahan:
1.  Klien mengatakan badannya meriang
2.  Klien mengeluh pusing pada kepalanya
3.  Klien mengatakan  telinga sebelah kiri sering gatal
4.  Klien mengatakan nyeri pada telinga kiri bagian tengah
5.  Klien mengatakan tidak nyaman
6.  Saat dipalpasi klien mengeluh nyeri
1.  TTV :
·         TD: 110/80 mmHg
·         HR: 100 x/menit
·         RR: 20x/menit
·         Suhu 39º C.
2.  Hasil pemeriksaan otoskopis diperoleh:
·         membrane timpani tampak merah
·         sering menggelembung
·         mengalami perforasi
3.  Klien diberikan terapi antibiotic spectrum luas, dan   obat tetes telinga.
4.  Klien diagnose medis otitis media

Data Tambahan:
1.  Klien tampak tidak paham tentang penyakitnya
2.  klien terlihat gelisah
3.  klien terlihat meringis menahan nyeri
4.  skala nyeri 6

B. ANALISA DATA
No
Data
Masalah
Etiologi
1.
DS:
1.  Klien mengatakan akhir-akhir ini sering mengalami batuk pilek, dan demam.

Data Tambahan:
2.  Klien mengatakan badannya meriang
3.  klien mengeluh pusing pada kepalanya

DO:
1.  TTV :
·         TD: 110/80 mmHg
·         HR: 100 x/menit
·         RR: 20x/menit
·         Suhu 39º C.
2.  Klien diberikan terapi antibiotic spectrum luas, dan   obat tetes telinga.
Hipertermi
Proses penyakit/ trauma
2.
Ds:
1.  klien mengatakan kehilangan pendengaran pada telinga sebelah kiri
2.  klien mengatakan keluarnya serumen yang berbau sejak 1 minggu yang lalu
DO:
1.  Hasil pemeriksaan otoskopis     diperoleh:
·         membrane timpani tampak merah
·         sering menggelembung
·         mengalami perforasi
2.  Klien diberikan terapi antibiotic spectrum luas, dan   obat tetes telinga.
3.  Klien diagnose medis otitis media
Data Tambahan:
4.  Klien terlihat mengalami perubahan respon terhadap rangsangan






Gangguan  persepsi sensori: pendengaran
Perubahan resepsi, transmisi dan/ integrasi sensori

























3.
DS:
1.  klien mengatakan suka mengorek-ngorek kuping dengan kuttenbad sampai dengan berdarah.
2.  Klien bertanya bagaimana bisa terkena penyakit ini
Data tambahan:
1.  klien mengatakan  telinga sebelah kiri sering gatal
DO:
Data tambahan:
1.  Klien tampak tidak paham tentang penyakitnya
Kurang Pengetahuan
Kurangnya Informasi
4
DS:
Data Tambahan:
1.  Klien mengatakan nyeri pada telinga kiri bagian tengah
2.  Klien mengatakan tidak nyaman
3.  Saat dipalpasi klien mengeluh nyeri
DO:
Data tambahan:
1.  klien terlihat gelisah
2.  klien terlihat meringis menahan nyeri
3.  skala nyeri 6

Agen cidera biologi
Nyeri akut

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
No
Dx
Tgl ditemukan
Tgl teratasi
1.
Hipertermi b.d proses penyakit (otitis media) /trauma
22 Mei 2014
24 Mei 2014
2.
Gangguan persepsi sensori pada pendengaran b.d Perubahan resepsi, transmisi dan/ integrasi sensori
22 Mei 2014
29 Mei 2013
3.
Defesiensi Pengetahuan b.d kurangnya informasi
22 Mei 2014
23 Mei 2014
4.
Nyeri akut b.d Agen cidera biologi
22 Mei 2014
25 Mei 2014


D. INTERVENSI
No
No.Dx
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
1.
1.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan suhu tubuh klien kembali normal dengan KH:
·         Suhu: 36,5 -37,5 ºC
Mandiri:
1.  Monitor suhu minimal 2 jam sekali, sesuai dengan kebutuhan
2.  Anjurkan klien mengenakan baju tipis, membuka selimut, kompres hangat
3.  Anjurkan klien minum sesuai kebutuhan tubuh
Kolaborasi:
1.  Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antipiretik
2.  Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan melalui IV
Mandiri:
1.  Mengevaluasi efektivitas intervensi dan menjamin keakuratan data
2.  dapat mengurangi demam dan memberikan rasa nyaman
3.  Membantu menurunkan suhu tubuh. Mencegah dehidrasi
Kolaborasi:
1.  Untuk menurunkan suhu tubuh.
2.  Untuk memenuhi kebutuhan cairan
2.
2.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan Persepsi / sensoris kembali baik dengan KH:
·         klien akan mengalami peningkatan persepsi sensori pendengaran sampai pada tingkat fungsional (0-15 dB)
Mandiri:
1.  Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang amandalam perawatan telinga (seperti: saat membersihkan denganmenggunakan cutton bud  secara hati-hati sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih lanjut.
2.  Perbaiki cara komunikasi dengan bicara pelan di dekat klien dan tidak berteriak-teriak
3.  Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang diresepkan oleh dokter

Kolaborasi:
1.  Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik
Mandiri:
1.  Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif, maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi.
2.  Dengan berteriak-teriak dapat memperparah kondisi telinga klien
3.  Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapatmenyebabkan organisme sisa resisten sehingga infeksi akan berlanjut.

Kolaborasi:
1.  Untuk mengurangi terjadinya infeksi yang disebabkan oleh bakteri
3.
3.
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan klien menunjukkan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis, dengan KH: klien mulai melakukan gaya hidup yang diperlukan.
Mandiri:
1. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
2. Berikan informasi mengenai terapi obat-obat, interaksi, efek samping dan pentingnya ketaatan pada program.
3. Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan

Mandiri:
1.  memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat mEMbuat pilihan
2.  Meningkatkan pemahaman  dan meningkatkan kerja sama dalam proses penyembuhan dan mengurangi resiko kambuhnya komplikasi
3.  Membantu mengontrol pemajanan lingkungan dengan mengurangi jumlah bakteri pathogen yang ada.
4.
4
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan klien menunjukkan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis, dengan KH: klien mulai melakukan gaya hidup yang diperlukan.
Mandiri:
1.  Kaji skala nyeri klien
Beri nilai dari 1-10 untuk nilai nyerinya
2.  Anjurkan teknik relaksasi.
3.  Berikan posisi nyeri
Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik
Mandiri:
1.  Untuk mengetahui efektifitas tindakan mengurangi nyeri
2.  Dengan relaksasi dapat mengalihkan rasa nyeri
3.  Untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi:
1.  Untuk mengurangi intensitas nyeri




E. IMPLEMENTASI
Hari/tgl/jam
No.Dx
Implementasi
Paraf
Kamis, 22 mei 2014
1.
1.  Memonitor suhu minimal 2 jam sekali, sesuai dengan kebutuhan
2.  Menganjurkan klien mengenakan baju tipis, membuka selimut, dan mengkompres hangat
3.  Menganjurkan klien minum sesuai kebutuhan tubuh
Kolaborasi:
1.  Kolaborasikan dengan dokter untuk memberikan obat antipiretik
2.  Kolaborasikan dengan dokter untuk memberikan cairan  IV

Jumat, 23 Mei 2014
2.
Mandiri:
1.  Menginstruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman dalam perawatan telinga (seperti: saat membersihkan dengan menggunakan cutton bud  secara hati-hati) sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih lanjut.
2.  Memperbaiki cara komunikasi dengan bicara pelan di dekat klien dan tidak berteriak-teriak
3.  Menginstruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang diresepkan oleh dokter
Kolaborasi:
4.  Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian antibiotik

Jumat, 23 Mei 2014
3.
Mandiri:
1. Meninjau proses penyakit dan harapan masa depan
2. Memberikan informasi mengenai terapi obat-obat, interaksi, efek samping dan pentingnya ketaatan pada program.
3. Meninjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan

Kamis, 22 Mei 2014

Mandiri:
1.  Mengkaji skala nyeri klien
Beri nilai dari 1-10 untuk nilai nyerinya
2.  Menganjurkan teknik relaksasi.
3.  Memberikan posisi nyeri
Kolaborasi
2. Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian analgesik



F. EVALUASI
Dx
Evaluasi
1
S : Klien mengatakan suhu tubuh masih panas
O : Suhu 38°C
A : Masalah teratasi sebagian
P : Tindakan keperawatan dilanjutkan:
-          Ukur  tanda-tanda vital klien
-          Anjurkan klien banyak minum air putih
-          Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik
2
S: Klien mengatakan masih belum bisa mendengar dengan jelas
O: membrane timpani tampak merah
A: Masalah belum teratasi
P: Tindakan keperawatan dilanjutkan:
-          Bersihkan serumen pada telinga klien
-          Pertahankan ketenangan di lingkungan klien
3
S : Klien mengatakan sekarang lebih mengerti tentang keadaannya
O : Klien bisa menjawab pertanyaan dari perawat
A : Masalah teratasi
P :  Tindakan dihentikan
4
S: Klien mengatakan telinganya masih nyeri
O: Klien menangis, ekspresi wajah tampak menahan nyeri
A: Masalah belum teratasi
P: Tindakan keperawatan dilanjutkan:
-          Kaji skala nyeri
-          Ajarkan teknik distraksi
-          Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik





DAFTAR PUSTAKA
1. MansjoerArifdkk. 2000. KapitaSelektaKedokteranJilid I. Media Aesculapius FakultasKedokteranIndonesia.Jakarta.
2.     Soepardi, EfiatyArsyad&NurbaitiIskandar. 1998. Buku Ajar Ilmupenyakit THT. FKUI : Jakarta.
3.     Sjamsuhidajat&Wim De Jong. 1997. Buku Ajar IlmuBedah. EGC : Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar